Anyer masih sama dengan dulu saat terakhir kali dina dan reza kesana. Desuran ombak, pasir putih kecoklatan, angin yang terus berbisik menjadi tempat yang sangat nyaman bagi mereka berdua. Aroma air laut selalu menjadi aroma favorit mereka. Seketika penat semua hilang seperti ombak yang menyapu pasir dipinggiran pantai.
Walaupun anyer sedikit jauh dari Jakarta tapi Dina dan Reza selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ketempat itu, tempat pertama kali mereka bertemu untuk pertama kalinya lalu berkenalan hingga menjalin sebuah hubungan dengan cerita yang bermacam-macam.
Sepulang kuliah Dina langsung tancap gas menuju anyer, bertujuan untuk nenangin diri dan sedikit liburan. Dina lulus di Universitas Indonesia, sedangkan Reza sudah menjadi mahasiswa di ITB bandung. Jarak yang memisahkan mereka. Dina masih kurang mengerti apa maksud reza untuk mengakhiri hubungan mereka itu setelah menjalin hubungan selama lima tahun. Sepanjang perjalan Dina mencoba memencari jawaban dari dirinya.
Sesampai di penginapan di Anyer, yang terletak pas depan pantai. Dina pun memesan sebuah kamar untuknya. Kamar itu Nampak sangat nyaman, dengan pintu kaca yang langsung menunjukkan wajah cantik dari pantai. Dina sangan suka pemandangan ini. Lalu Dina mengambil laptop dari tasnya, menekan tombol power pada sudut kanan pada laptop. Menurutnya menunggu loading dari laptopitu sangat mejenuhkan, tetapi jika menunggu Reza dating ketika mereka suda membuat janji itu sangat menyenangkan. Enatah kenapa pikiran itu semakin liar hingga membuat air matanya jatuh di sela-sela keyboard laptop Dina.
Tanpa dia sadari laptopnya telah lama menunggu Dina yang sedang bermain di masa lalu. Dina bergegas menhapus air matanya. Dia membuka google lalu me-search “jarak”, mengartikan kata itu dari setiap artikel yang diabacanya. Matanya memerhatikan dari satu kata ke kata lainnya. Dia mengucapkan kata jarak hingga puluhan kali sampai tak ada lagi artinya baginya. Hanya sebuah kata yang terdiri dari 5huruf dapat membuat hubungannya dengan Reza tidak berjalan lancer lalu diakhiri dengan memutuskan untuk berpisah jalan.
Dan sekali lagi air atanya pun jatuh membasahi pipinya yang kemerahan. Dina berubah pikiran, Dina keluar dari kamar lalu pergi ke pantai. Dina mencoba menghirup udaha pantai, mencoba merasakan betapa nyamannya berada disini, seperti berada dipelukan Reza. Dina selalu mencoba untuk melupakan Reza, tapi itu belum bisa terwujud. Saat ingin melupakan, bayangan Reza selalu berkunjung ke pikiran Dina.
“Mungkin ini jalan dari Tuhan” Kata Dina yang sedang menggenggap pasir. “ Seharusnya ini Anniversari kita yang ke lima tahun za, kalau saja kamu gak ngucapin itu. Pisah.” Hanya angin dan desuran ombang yang menemani Dina dalam kesunyian itu. Bertamu ke masa lalu, membuka jaitan luka yang lama lalu menaburkan garam diatas luka itu. Tak henti-hentinya airmata jatuh ke pipinya. Dan tidak ada lagi yang menghapus air mata itu dari pipinya.
Mati rasa. Mungkin itu yang dirasakan Dina sekarang, sampai-sampai dia tidak merasakan dinginnya malam. Dia sibuk dengan pikiran masa lalunya itu. Tidak terasa sudah larut malam, Dina pun masuk ke hotel. Selangkah masuk keruangan tunggu, Dina melihat seorang pria yang duduk di foodcourt sambil sibuk dengan ponsenya. Menatap laya yang tidak begitu lebar sambil melemparkan senyuman. “Mungkin dia lagi chat atau sms an dengan seseorang” pikir Dina. Dina memutuskan untuk ke food court juga karna cacing di perutnya udah berutal.
Dina memesan nasi goring seafood dan lime jus, dia juga ingat kalau nasi goring seafood merupakan makanan favorit dari reza. Dina menikmati sesuap demi sesuap dari nasi goreng tersebut. Bayangan Reza sedikit demi sedikit pun hilang untuk sementara ini seiring dengan habisnya seporsi nasi goring yang di pesan Dina tadi.
Dina melihat jam tangan-nya, sudah hamper jam 9. Tidak baik mungkin berlama-lama ditempat yang tersimpan aroma tubuh reza, suara ketika dia tertawa. Dina lalu mengangkat tubuhnya lalu bergegas menuju kamarnyasetelah membayar pesanannya tadi dikasir.
Biasanya, Dina bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama reza untuk berbincang di foodcourt tersebut. Bicara dengan reza tidak pernah membuatnya jenuh atau tidak meliki cerita lagi. Selalu ada cerita yang mereka bahas ketika bersama. Tawa, senyuman yang mengiringi setiap perbincangan mereka selalu membuat semua berwarna.
Namun, Reza yang selalu mmbuat Dina tersenyum ataupun tertawa. Dia juga yang membuat Dina jatuh hingga harus belajar jalan dari awal lagi. Agar bisa berjalan di kenyataan tanpa harus jatuh dan luka lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar