Jumat, 15 Agustus 2014


Cerpententangpendidikan

Hakcipta

Disini saya akan menulis tentang hakcipta tetapi menyangkut dunia pendidikan. Seharusnya kita sudah tidak asing lagi dengan yang namanya teknologi. Di zaman yang serba modern ini kita cepat sekali mendapatkan informasi bahkan dari 1000 informasi yang kitadapat, sekilah kita hanya bias baca 3 dan itu saja kita bias mengeluarkan spekuliasi yang mempertimbangkan keberaran sumber tersebut. Dan iniseringterjadi di pendidikan di Indonesia entah itu dari sekolah dasar hingga mahasiswa yang sedang menempuh S1 nya. Untuk memudahkan kerja atau tugas mereka hanya memanfaatkan teknologi dengan tidak bertanggungjawab, jawabaan orang di ambil untuk di jadikan jawabannya sendiri tanpa izin sebelumnya. Memang cara ini sangat mudah dilakukan apalagi untuk siswa yang malas dengan tulisan atau malas dengan membuat argument sendiri dan copasmen jadi pilih anter akhir untuk membuat tugasnyas elesai. Tetapi apakah kalian tau dampak dari hal tersebut, banyak sekali dampaknya. Yang pertama bila kita mengambil sumber yang salah dalam artian sumber tersebut tidak menyertakan sumber yang telah terbukti dengan penelitian maupun survey contohnya saja blog yang banyak menuliskan argument mereka sendiri, itupun mereka tidak lepas dari hal alami manusia ya itu membuat kesalahan diaman para blogger (contoh) salah dalam mengartikan atau menafsirkan atau membaca arti tertentu dan bagaimana orang yang terlanjur percaya dengan blogger tersebut otomatis ajaran yang salahter sebutakan meluas belum lagi ketika hal yang salah tersebut di post di berbagai media social dan menjadikan hal tersebut tren hal  ini akan berdampak parah bagi kepercaya anter hadap publik. Budaya yang sering kita temui ini juga merugikan bagi pemiliknya, memangadabeberapa para penulisatausumber yang membebaskan orang meng-copy tulisaanyatetapibukanartiaanmerekamembolehkannya, tetapisiapa tau mereka tidak bisa atau tidak tau bagaimana cara memprotect tulisannya, yang jelas juga ini akan sangat merugikan penulis yang membuat argument tersebut. Paling tidak jika kita memang ingin mengopy dan tidak memintaizin, sediaknya kita berkomentar tentang tulisan orang itu bagaimana pendapat kita tentang tulisannya apakah bagus atau tidak apakah sesuai dengan fakta atau tidak. Dengan begitu para penulis tidak akan terlalu tersinggung saat tulisannya di copy paste.
Dan lebih parah lagi budaya ini adalah budaya yang paling rendah dan aman para orang atau okum yang copas tidak membaca terlebih dahulu, dirasa cocok langsung sikat. Itulah yang menyebabkan banyaknya salah kapra di Indonesia ini, kenayakan orang menyalahkan sistem dari pendidikan Indonesia ini tetapi jika kita melihat dari sisi positif banyak ajakan yang ingin merusak pendidikan di Indonesia ini, terutama melalu jejaring media social dimana generasi muda jaman sekarng lebih banyak menulis di twitter daripada di buku catatan mereka, mereka lebih banyak galau daripada berfikir kritis untuk Indonesia yang lebih maju, dan yang paling parah lagi masih adanya copas di dalam media social ini, dimaanahal yang berbaugalau atau cintaakan di copy dan di paste di berbagai media social yang baru dan hal ini mungkin menurut argument saya akan menimbulkan satu kotruksi social yang akan menancapkan pikiran kita bahwa anak muda jaman sekarang harus (galau, pacaran tidak bisa move on dan lain lain) walaupun kita bisa lihat dari sisi positifnya media social tapikontruksi social ini benar-benar berjalan dengan semestinya yang bisa membuat generasi muda Indonesia bisa dengan mudah di bodohi karena kurangnya minat membaca, setidaknya kita hargai siapa penulisnya dengan membacanya dan tidak membajaknya(mengcopas).
Seperti tanaman yang telah tua dan punya akar lebat hal ini sangat sulit untuk di cabut dari akarnya, karena semakin cepatnya arus informasi semakin canggihnya teknologi, dan semakin maraknya media social akan semakin sulit untuk memberantas penyakit demikian.
Mungkin ada beberapa cara menurut saya yang bias menjaga/menstabilkan bukan untuk menghabiskan atau mengurangi karena hal tersebut dirasa mustahil di zaman yang serbabebasini, hal yang pertamaadalah, jangan baca satu sumber minimal jika memang berita itu lagi naik daun bacala hdari minimal 10 sumber tetapi dengan sumber yang berbeda bukan dari sumber yang sama dan itu juga hanya mendukung satu belah pihak saja sedang kan pihak lain tidak di dengarkan, jadidengarkan ke2 belahpihak. Kemudian setelah mendapat informasi kamu catat halhal yang terpenting. Kamu boleh mengcopas jika dari 10 sumber kata kata setiap sumber yang berbeda pihak tersebut sama tulisannya baru boleh kita ambil. Kemudian kita perbaiki kalimat yang telah kita susun tersebut dengan artian kita membaca sekalgus menulis dengan bias mengerti mana tulisan yang baik dan yang benar. Kemudian jiika kalian meng-upload salah satu hasil kerya kalian wajib kalian tulisuntuk di larang mengkopi walaupun tidak menimbulkan effek yang bear, setidaknya kita juga bias mengingatkan mereka.


Jumat, 16 Agustus 2013

Terkadang Bocah Lebih Bahaya Daripada Calon Mertua

Aku gak ngerti kenapa sampe sekarang masih jomblo. Mungkin sih bener kata orang, barang mahal itu susah lakunya *kipas-kipas poni*. Ya serah deh kata orang gimana liat aku, sampe kadang temen nanya " luk masih normal kan ya? " Dan aku cuman bisa natap pake tatapan kosong. Terkadang aku terpikir untuk di jodohin aja sih sama orang tua. Bukan karna pasrah karna gak laku-laku ya tapi mungkin ku pikir pilihan orang tua lebih baik dari pilihan tua. Dan mungkin pilihan orang tua udah pasti pilihan Allah. Tau deh kenapa bisa bijak gitu ngomongnya. Mungkin karna otaknya gakdibutain sama cinta :p. Karna orang yang jatuh cinta itu buta, buta hati juga pikiran. Yalah iya mungkin aku cuman sirik. Puas???


Dua hari yang lalu temen ibuku datang ke rumah, kan masih bau-bau lebaran. Jadi si tante ini bawa anaknya yang masih kelas 4 SD. Dari dia kecil sih aku tau kalo anak ini bijak, karna sering main dirumahku. Tapi udah lama gak main kesini lagi.  Dia sekarang udah nampak dewasa dengan bb di tangan dan memakai dress pendek. Namanya ica. 


Lalu kesengaaraanku dimulai dari sini. Ternyata bukan penampilannya yang dewasa, bahasa bahkan bahasannya gak sesuai dengan umurnya yang 10thn. Dia masuk ke kamar ku, dia ngobrak ngabrik buffet buku yang isinya novel semua. 
"Mbak suka baca novel ya?" Kata dia. 
"He? Iya ca hehehe. Kamu suka juga? Kamu suka lupus gak? Mbak banyak novel ya kalo kamu suka." 
"Lupus? Gak suka mbak. Aku sih sukanya novel-novel teenlit gitu apa lagi yang ada cinta-cintanya." Katanya dengan yakin sambil balasin bm yang masuk. Sedangkan aku? Pasang paket sebulan aja blm tentu ada yang ngebm. Haduuuhhh. 
"Ha? Teenlit?" Mataku hampir keluar dari tempatnya. 
"Iya mbak punya? Atau novel yg lainnya yg ada cinta-cintanya?" 
"A..ada sih, tapi kamu emang ngerti sama cinta-cinta gitu?" Aku nanya dengan muka gak yakin. Soalnya sih aku yang udah berumur 16 tahun ini aja belum bener-bener ngerti sama cinta. Malah kadang cinta itu gak masuk akal menurutku. Datang gak ketuk pintu lalu pergi tanpa permisi.  
"Ngerti dong, mana sini aku mau liat mbak!!!" Dengan semangat perjuangan dia menjawab. Terus aku kasih aja. 

Gak beberapa lama setelah dia baca sinopsis novel yang ku kasih dia mulai ngoceh lagi. Dan aku pasrah. 
"Cerita novel ini persis banget sama cerita cinta temen aku" mukanya yang dewasa dan cerewet itu semakin nampak. 
"Loh emang kamu temenan sama siapa? Anak remaja labil?" 
" ya temen sekelasku lah mbak. Mbak ini lucu banget. Hahahaha" dia ketawa kuat seakan menang arisan. Sedangkan aku cuman bisa duduk terdiam dengan mulut ternganga. Ini sebenernya tahun berapa sih kenapa bocah umur 10 tahun udah begini banget pergaulannya.
Gak puas dengan pertanyaan tadi, dia pun mulai mewawancarai aku lagi. Dan lagi lagi aku cuman bisa pasrah. 
"Mbak punya twitter gak?" Kata dia dgn muka cengengesan. 
"Twitter ya? Punya sih" aku jawab ya agak gugup soalnya kalo salah salah bisa  nanya yang aneh aneh. 
"Apa usernya?" Katanya lagi. 
Aduh mampus. 
"Emm... @lulululek dek" sambil berdoa kalo dia gak ngecek macem-macem. 
"Bio mbak kok gak kosong? Gadak nama pacarnya gitu. Hahahaha jomblo ya mbak?" Dia ngomong gitu dengan tampang mintak-di-ditabok-banget. 
Seakan kenak serangan jantung. Hening agak lama. Karna aku masih bengong kenapa dia langsung bisa nebak status ku itu. 
"Oh itu ya. Emm iya dek. Mau fokus belajar aja dulu. Heheh jadi gitu deh. Emang kamu punya? Hahahaha" maksud ngeledek sih ngomong gitu. Tapi  ternyata Tuhan berkehendak lain. Dia pun semakin menjadi-jadi. 
"Aku sih lagi deket sama anak kelas 5 mbak. Dia perhatian kali samaku. Padahal aku biasa aja." Kata ica yang masih 10tahun itu. 
"Ha?" Aku merasa hina banget. 
"Terus?" Kataku lagi. 
"Ya gitu. Aku takut dia ngerasa aku phpin dia mbak. Bingung deh. Ngomong-ngomong mbak kok jomblo? Gadak yg deketin gitu? Hahahaha" dia jawab dengan sombongnya. 
"De... Apa? Deketin ya? Hee" aku cuma bisa nyengir. 
"Iya, biasanya kan cewek ada yang ngejer-ngejer gitu." Dia makin ngotot. 
Masalahnya aku di sekolah bukan cewek yang bisa dibilang terkenal, gaul, kalem, ayu, atau sejenisnya. Aku malah sebaliknya. Aku spesies yang gak bisa di tebak sikapnya, dengan sering kentut sembarangan, makan kayak orang kalap, pake pelembab bibir pun baru tau pas kelas 3 SMA. Iya sedih memang. 
"Seringnya di kejer monyet dek yang di temple run. Hehehehe" aku cuman bisa balas itu. 
"Aduh ngenes banget ya mbak hahahaha " dia makin menjadi-jadi. 
KAPAN DIA PULANG YA ALLAH!!!!! 
Aku gatau sampai kapan aku akan bertahan oleh bullyan ini. 


Gak lama setelah aku berdoa mama ica pun ngajak dia pulang karna udah malam. Aku hampir aja nangis karna bahagia. Huuuhhhh... 
"Enak deh cerita sama mbak. Ica suka. Lain kali ica tidur sini ya ma..." 
"Iya nanti ica tidur sini kapan-kapan" kata mama ica yang meng-iyakan permintaan anak kebelet dewasa itu. 
"...." 
Berasa jantung ku gak berdetak lagi. 3 jam ngeladenin itu anak aja udah hampir bisa kenak serangan jantung gimana kalo seharian???!!!!! Mau jadi apa hidupku. 
Aku cuman bisa berharap.... Berharap mama ica lupa jalan ke rumah ku. Yaa jalan ke rumahku. 


Sekarang aku ngerti, terkadang bocah lebih bahaya dari pada calon mertua. Mungkin karna aku belum punya calon mertua. Mungkin....


Kamis, 15 November 2012

2. Detakan Yang Sama



  “ Dia yang membuatmu terluka, mungkin juga hanya dia yang dapat menyembuhakan luka itu.”

  Pagi selalu membuat senyum baru, tapi tidak untuk kali ini. Dina yang sudah dua tahun hidup tanpa Reza membuatnya tidurnya selalu tidak nyenyak.
   Dina bangun, yang pertama kali di lihatnya yaitu layar ponselnya. Dia membuka socialmedia yang biasa disebut dengan Twitter. Dia memulai paginya dengan ngestalking timeline Reza. Senyum kecil terlintas diraut muka Dina ketika mengetahui Reza baik-baik saja.  Dina bukan senang karna bisa pisah dengan Reza, melainkan dia senang karna Reza baik-baik aja tanpanya. Menu sarapan Dina pagi ini adalah harapan mendapatkan mention dari Reza pagi ini untuk mengucapkan selamat pagi.
   Coklat panas menemani pagi Dina yang hening. Kata demi kata disetiap tweet Reza selau mengingatkan Dina akan cara dia bicara, cara dia memberi kabar lewat sms maupun BBM. Dina membenci Reza. Reza yang merelakan hubungan mereka yang dikarnakan oleh jarak, Reza mengalah pada jarak. Padahal jarak Bandung-Jakarta hanya 2jam yang dapat ditempuh oleh mobil. Ia tak pernah mengerti bagaimana cinta bisa dikalahkan oleh jarak.
   Dina memutarkan sebuah lagu dari ponselnya. Lagu itu merupan lagu favorit mereka berdua, Dina dan Reza.

“It’s so hard,it’s so hard
Where we are,where we are
You’re so far,this long distance is killing me
It’s so hard,it’s so hard
Where we are,where we are
You’re so far,this long distance is killing me”

   Lagu itu selalu mengingatkannya dengan Reza, namun tak ada satu hari pun dilewati Dina tanpa mendengar lagu itu. Begitu juga dengan Reza, Dina setiap harinya selalu ngestalking timeline Reza untuk mendapatkan kabar Reza. Walau ia tau kalau kepo itu gak baik, dan bisa mengundang mendung dimata, tapi Dina selalu yakin bahwa aka ada seseorang yang dapat membuat pelagi dimatanya.
   Lagu itu terhenti, dikarnakan Balqis sahabat Dina menelfon.
  “Din….” Kata Balqis diujung dengan nada cemas.
“Iya Qis…. Aku gapapa kok. Cuma mau liburan disini sama ngilangin penat. Besok juga udah balik ke Jakarta.” Dina mencoba untuk menjelaskan.
  “Alhamdulillah syukur deh,  lo udah siapin cerpen untuk majalan edisi bulan ini kan? Besok kasi datanya ke gue ya din. Hati-hati ya. Asalamualaikum”
“walaikumsalam”
Dina sadar bahwa sahabatnya Balqis sangat cerewet, tapi hanya Balqis tempat Dina untuk meluapkan semua masalahnya. Dikarnakan dia seorang yang merantau. Dina selain menjadi mahasiswi, Ia juga bekerja disebuah majalah di Jakarta sebagai penulis artikel atau cerpen-cerpen. Sedangkan Balqis sahabatnya yang juga teman sekampus, ia bekerja dibidang jurnalis. Dina sering menceritakan kejadian di hidupnya di majalah tersebut, tapi nama pemerannya diganti.

Ting… Ting…

     Alarm jam Dina berbunyi menandakan dia harus segera balik ke Jakarta. Jam yang selalu mengingatkan dan menemani Dina ini sebuah pemberian dari Reza sebagai hadiah di hari jadi mereka yang ke-2 tahun. Jam pemberian Reza ini yang mengingatkan dia kapan dia harus makan siang, malam, kapan dia harus tidur dan bangun pagi untuk memulai harinya. Harinya yang tak lagi didampingi oleh Reza. Tapi ketika masih ada Reza jam ini kurang berguna bagi Dina, dan Alarm-nya jarang di On-kan oleh Dina. Sebab Reza yang selalu mengingatkan Dina untuk makan, ataupun bangun pagi. Terkadang selalu ada pantun pagi yang dibuat oleh Reza untuk Dina. Selalu ada kejutan setiap harinya yang dibuat oleh Reza. Itulah yang membuat Dina susah untukmelupakannya. Dina telah melangkah jauh dari Reza, tapi Dina masih saja melangkah sambil menghadap belakang.
   Sesampai di Jakarta tepatnya di tempat Dina bekerja, Nampak Balqis didepan pintu ingin menyambut sahabatnya yang Datang. “Beruntung sekali aku memiliki sahabat sepertimu, Qis” Hati Dina berbicara.

“Hei senyum dong”
Balqis menepuk pundak Dina dengan harapan Dina bisa semangat hari ini.
Dina hanya membalas senyum sambil melangkah masuk kedalam caffe dekat kantor mereka.
“Gitu dong”
Kata Balqis yang berjalan disamping Dina.
“Tumben banget lo datang cepat Qis?” Kata Dina yang niatnya mengejek.
“Hahahaha, kan mau nyambut lo yang dari Anyer itu.. hahahaha”
Balqis mengejek balik.
Lalu Dina hanya bisa melihat Balqis dengan tatapan “ujung-sepatu-gue-runcing-ni-nyet”.
Balqis ketawa lagi melihat Dina yang memasang tampang kesel.
   Dina dan Balqis selalu menghabiskan paginya sebelum masuk kantor di Caffé dekat tempat mereka berkerja. Karna mereka hanya bekerja sambilan jadi mereka masuk jam 12 siang, sehingga itu sebabnya mereka bisa berlama-lama di Caffe tersebut.
   Caffe itu selalu tampak nyaman bagi mereka. Caffe yang memiliki hanya 10 meja yang disetiap mejanya berisi 4 kursi. Membuat  Dina dan Balqis selalu menjadi orang yang beruntung jika bisa mendapatkan tempat duduk. Caffe ini menjual kopi, the, roti bakar coklat keju, pancake, dan makanan kecil lainnya. Terkadang Reza selalu berkunjung ke caffe ini untuk menunggu Dina pulang kerja.
   Dina memesan milk shake coklat dan pancake keju kesukaannya. Sedangkan Balqis memesan kopi dan roti bakar coklat.

“lo ga bosen apa mesen itu mulu” Kata Dina.
“Kan gue orangnya setia, jadi kalo mesen ya ini ini aja. Hehehehheeh” Kata balqis sembarangan dengan senyum mesum.
“Hahahahahaaha bisa banget lo”
Dina yang tertawa mendengar jawaban dari Balqis.
Balqis selalu bisa membuat Dina tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak, sama dengan Reza. Reza juga selalu punya tebakan yang akan ditanyakannya ke Dina setiap mereka jumpa. Reza juga memiliki kata-kata yang lucu yang akan disampaikan ke Dina.

“Wah pesanannya datang, aaakkkkk” kata Balqis sambil mangap.
“ayo kita habiskan!!!”
Lalu mereka tertawa bersama.”Indahnya persahabatanku ini” kata Dina dalam hati. Ia berpikir, kalau saja hubungan Reza dengan nya berjalan baik seperti hubungan persahabatan Dina dengan Balqis.
   Dina meminum milk shake coklat-nya, sambil berpikir. Harusnya hubunganku seperti milk shake coklat ini biarpun es batu bersifat keras ketika di mix dengan susu coklat mereka akan melebur menjadi satu dan akan lembut juga. Tidak adalagi es batu ataupun susu coklat, sekarang yang ada Kita.
   Aroma kopi, coklat panas ataupun teh semua tercium jelas juga dengan aroma tubuh Reza. Menenangkan namun menghanyutkan.
“Mau sampai kapan lo gini terus Din” Kata Balqis sambil menyeruput kopinya.
“ Gue juga gatau sampai kanapa gue terperangkap di hati Reza, masalahnya kunci pintu hatinya itu hilang Qis..” Kata Dina yang garuk-garuk kepala.
“Hahahaha alasan lo kayak rendang tiga minggu Din, Basi.”
Balqis tertawa keras, sehingga perhatian pengunjung coffe itu melihat mereka berdua.
“Heh, lo kalo ketawa santai dong. Malu nih diliatin” Kata Dina yang panik karena dilihat pengunjung caffe tersebut.
“Iya dah, tapi ekspresimu tadi bener-bener buat gue yakin kalo lo emang belum bisa move on hahahahaha” Balqis tertawa lagi.
“Mintak pisau roti lo tuh!” Dina menunjuk kearak pisau roti yang dipegang Balqis.
“Lah lo mau ngapain? Mau nyongkel pintu hatinya si Reza biar lo bisa keluar? Hahaha”
“Bukan, gue mau motong mulut lo tuh. Huh” Kata Dina yang kesal karna dibulli habis-habisan sama Balqis.
“Kenapa gak pake pisau daging aja?” Balqis nyinyir.
“BIAR LEBIH LAMA. BIAR PUAS GUE, KAMPRET LO”
Balqis hanya bisa tertawa dan mengelap air matanya karna lucu melihat tingkah Dina.

                                                       ***
   Caffe ini memang tempat yang pas untuk segalah hal. Mulai dari berbincang dengan teman, mengerjakan tugas, ataupun menghabiskan malam minggu bersama pacar yang seperti dilakukan Dina dan Reza dulu.
   Suasana caffe yang nyaman membuat Dina dan Balqislupa akan waktu. Tanpa terasa sudah jam 11.45, dan seharusnya mereka sudah harus berada di kantor.
“Mampus Din, udah jam setengan 12. Gawat” Balqis yang panik langsung melahap sisa roti bakarnya.
“Gue tending juga nyampe lo ke kantor, santai aja.” Kata Dina sambil meminum sisa milk shake coklatnya.
   Lalu mereka berjalan kearah kasir. Dan Dina mendapatkan pemandangan yang tidak asing, dia seperti pernah melihat orang ini sebelumnya. “Sepertinya semalam, iya bener dia yang di food court” Kata Dina sambil melihat pria tersebut yang duduk di pojok caffe.
“Lo kenapa lagi din?tanya Balqis.
“Itu Qis, cowok itu, aku ngeliat dia semalam di Anyer. Dan dia juga Nampak menyendiri.” Dina ngomong sambil memonyongkan bibir dengan niat menunjuk tapi tidak dengan tangan melaikan dengan bibir.
“Ohhh….” Balqis mangut-mangut udah kayak mainan dimobil. “Manis juga” Balqis melanjutkan perkataannya.
“Iya dia manis, sedangkan Reza tampan” kata Dina yang sambil membayangkan muka Reza.
“Udah ah, kita telat nih”
“Iya iya”

Sesampai di kator Dina selalu terbayang dengan dua wajah berbeda. Wajah Reza dan wajah pria yang ditemuinya di Anyer dan di caffe yang ia tidak tau namanya. Dina penasaran dengan pria tadi. Dia hanya bisa berharap dapat dipertemukan lagi dengan pria tersebut dan dapat berkenalan dengannya. Entah kenapa keinginan hati Dina kali ini sangat tinggi, membuat dia merasakan detakan jantung yang sama seperti Dina jumpa dengan Reza untuk pertama kalinya.


Sabtu, 10 November 2012

1. Tempat Yang Sama Luka Yang Sama



   Anyer masih sama dengan dulu saat terakhir kali dina dan reza kesana. Desuran ombak, pasir putih kecoklatan, angin yang terus berbisik menjadi tempat yang sangat nyaman bagi mereka berdua. Aroma air laut selalu menjadi aroma favorit mereka.  Seketika penat semua hilang seperti ombak yang menyapu pasir dipinggiran pantai.
   Walaupun anyer sedikit jauh dari Jakarta tapi Dina dan Reza selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ketempat itu, tempat pertama kali mereka bertemu untuk pertama kalinya lalu berkenalan hingga menjalin sebuah hubungan dengan cerita yang bermacam-macam.
   Sepulang kuliah Dina langsung tancap gas menuju anyer, bertujuan untuk nenangin diri dan sedikit liburan. Dina lulus di Universitas Indonesia, sedangkan Reza sudah menjadi mahasiswa di ITB bandung. Jarak yang memisahkan mereka. Dina masih kurang mengerti apa maksud reza untuk mengakhiri hubungan mereka itu setelah menjalin hubungan selama lima tahun. Sepanjang perjalan Dina mencoba memencari jawaban dari dirinya.
   Sesampai di penginapan di Anyer, yang terletak pas depan pantai. Dina pun memesan sebuah kamar untuknya. Kamar itu Nampak sangat nyaman, dengan pintu kaca yang langsung menunjukkan wajah cantik dari pantai. Dina sangan suka pemandangan ini. Lalu Dina mengambil laptop dari tasnya, menekan tombol power pada sudut kanan pada laptop. Menurutnya menunggu loading dari laptopitu sangat mejenuhkan, tetapi jika menunggu Reza dating ketika mereka suda membuat janji itu sangat menyenangkan. Enatah kenapa pikiran itu semakin liar hingga membuat air matanya jatuh di sela-sela keyboard laptop Dina.
  Tanpa dia sadari laptopnya telah lama menunggu Dina yang sedang bermain di masa lalu. Dina bergegas menhapus air matanya. Dia membuka google lalu me-search “jarak”, mengartikan kata itu dari setiap artikel yang diabacanya. Matanya memerhatikan dari satu kata ke kata lainnya. Dia mengucapkan kata jarak hingga puluhan kali sampai tak ada lagi artinya baginya. Hanya sebuah kata yang terdiri dari 5huruf dapat membuat hubungannya dengan Reza tidak berjalan lancer lalu diakhiri dengan memutuskan untuk berpisah jalan.
   Dan sekali lagi air atanya pun jatuh membasahi pipinya yang kemerahan. Dina berubah pikiran, Dina keluar dari kamar lalu pergi ke pantai. Dina mencoba menghirup udaha pantai, mencoba merasakan betapa nyamannya berada disini, seperti berada dipelukan Reza.  Dina selalu mencoba untuk melupakan Reza, tapi itu belum bisa terwujud. Saat ingin melupakan, bayangan Reza selalu berkunjung ke pikiran Dina.
   “Mungkin ini jalan dari Tuhan” Kata Dina yang sedang menggenggap pasir. “ Seharusnya ini Anniversari kita yang ke lima tahun za, kalau saja kamu gak ngucapin itu. Pisah.” Hanya angin dan desuran ombang yang menemani Dina dalam kesunyian itu. Bertamu ke masa lalu, membuka jaitan luka yang lama lalu menaburkan garam diatas luka itu. Tak henti-hentinya airmata jatuh ke pipinya. Dan tidak ada lagi yang menghapus air mata itu dari pipinya.
   Mati rasa. Mungkin itu yang dirasakan Dina sekarang, sampai-sampai dia tidak merasakan dinginnya malam. Dia sibuk dengan pikiran masa lalunya itu. Tidak terasa sudah larut malam, Dina pun masuk ke hotel. Selangkah masuk keruangan tunggu, Dina melihat seorang pria yang duduk di foodcourt sambil sibuk dengan ponsenya. Menatap laya yang tidak begitu lebar sambil melemparkan senyuman. “Mungkin dia lagi chat atau sms an dengan seseorang” pikir Dina. Dina memutuskan untuk ke food court juga karna cacing di perutnya udah berutal.
   Dina memesan nasi goring seafood dan lime jus, dia juga ingat kalau nasi goring seafood merupakan makanan favorit dari reza. Dina menikmati sesuap demi sesuap dari nasi goreng tersebut.  Bayangan Reza sedikit demi sedikit pun hilang untuk sementara ini seiring dengan habisnya seporsi nasi goring yang di pesan Dina tadi.
   Dina melihat jam tangan-nya, sudah hamper jam 9. Tidak baik mungkin berlama-lama ditempat yang tersimpan aroma tubuh reza, suara ketika dia tertawa. Dina lalu mengangkat tubuhnya lalu bergegas menuju kamarnyasetelah membayar pesanannya tadi dikasir.
   Biasanya, Dina bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama reza untuk berbincang di foodcourt tersebut. Bicara dengan reza tidak pernah membuatnya jenuh atau tidak meliki cerita lagi. Selalu ada cerita yang mereka bahas ketika bersama. Tawa, senyuman yang mengiringi setiap perbincangan mereka selalu membuat semua berwarna.
   Namun, Reza yang selalu mmbuat Dina tersenyum ataupun tertawa. Dia juga yang membuat Dina jatuh hingga harus belajar jalan dari awal lagi. Agar bisa berjalan di kenyataan tanpa harus jatuh dan luka lagi.

Jumat, 09 November 2012

Percakapan Di Halte

  Hujan terlalu deras untuk terus berjalan kaki, mau atau tidak aku harus menunggu dia reda di Halte. Halte yang lama tidak disinggahi oleh pengguna transportasi umum. Coretan, poster-poster menghiasi dinding Halte tersebut. Hujan tak kunjung reda, dan matahari berganti tugas dengan bulan.

  Hujan tinggal rintik-rintik. Mengangkat kaki lalu pergi dari Halte itu langsung terlintas dipikiran. Ketika ingin pergi, seseorang datang ke Halte tersebut lalu memanggilku.

"dinaa.... " kata lelaki itu.

  Kepala yang ditutupi oleh sebuah topi, dan jaket hitam yang memeluknya hangat. Suara itu tak asing bagiku, tapi aku tidak bisa nebak siapa dia dikarnakan bayangan topi yang menutupi wajahnya. Lalu dia membuka topinya dan berkata..

"ini aku.." sambil tersenyum dia menatapku.

  Ternyata dia Reza, mantan ku dulu. Mataku gak bisa berpaling dari matanya. Lalu dia mengajakku mengobrol. Tidak bisa ku tolak permintaan itu, lalu aku menghampiri lagi Halte kusam itu. Kami pun duduk berdua sambil berbincang disana.

" Apa kabar kamu, dina? Kamu masih mengingatku? ''

" Ngg.. alhamdulillah baik, kamu gimana? Bagaimana bisa lupa aku denganmu hahahaha" *sambil tertawa kecil* 

*Hening* 

" Kamu kemana saja selama ini? setelah tamat SMA kamu terus hilang" tanya dia seperti orang cemas.

" Oh soal itu, iya aku lanjutkan study di Jogya za, aku lulus di snmptn, dan saat ini aku lagi liburan. Karna itu aku ke jakarta" aku joba menjelaskan kepada Reza.

" Kenapa kamu tidak memberi tau aku, Din? "

" Kupikir kau lagi sibuk dengan dia, pacar baru mu. dan aku gak mau menunggu didepan pintu yang belum pasti terbuka dan menerima kedatanganku. Kedatanganku akan membawa masalah untuk hubunganmu. "

" Aku salah memilih dia ketimbang kamu, maaf aku telah menyia-nyiakan kamu. Orang yang selama ini selalu di dekatku walau senang ataupun... "

" Jangan berkata seperti itu, perkataan mu itu membuat lukaku yang dulu terbuka lagi. Aku telah mengikhlaskanmu dengannya, za. Harusnya kamu jangan menyesal dengan apa yang telah kamu lakukan, dan kamu harusnya menyesal apa yang belum kamu lakukan sampai saat ini"

" Kamu selalu bisa menepis ya, kamu masih sama seprti yang dulu. Din, siapa pacarmu sekarang?" 

" Ha? Pacar? hahahaha tidak ada terbeset dipikiranku untuk pacaran lagi Za. Pasti ada saatnya, toh jodoh juga gak bakal kemana kan? "

" Hahaha iya Dina... " sambil tertawa Reza menatapku

" Apakah kamu sudah memaafkanku? Atas semua kesalahkanku, dan perlakuanku padamu setelah berjumpa dengan wanita itu? "

" Kalau soal itu kamu tak usah khawatir, aku orangnya tak pendendam. Kalau aku pendendam aku bakan menerormu setiap hari atas perlakuanmu. Huhh" 

" Jadi kamu maafin aku, Din? "

" Maafku banyak untuk mu, tinggal kamu ambil saja."

" Apa kau mau merajut sweater baru denganku? pasti kau tau maksudku apa din. "

" Aku gak bisa memutuskan sekarang, Za. "

" Yasudah, sudah larut malam. Aku antar kamu ya. "

" Jangan repot, aku bisa sendiri kok. "

                                                                              ***

 Dimalam itu kami bertukaran nomor hape. Setelah hari itu dia terus menanyakanku tentang ajakannya untuk menjalin hubungan denganku lagi. Tapi aku belum saja memutuskan sampai sekarang, ada rasa takut yang menghantui setelah kejadian 2tahun lalu. 

*3bulan berlalu*
 Hubungan kami semakin dekat, dan ada terlintas pikiran untuk menerima dia dihidupku lagi. Mulai menulis cerita baru, yang setiap lebarnya kami nikmati ceritanya. tampa menerka-nerka apa akhir cerita cinta ini.

*SMS*

Dina : " Reza"
Reza : " Ya Din? ada yang mau kau bilang? "
Dina : " Ini tentang ajakanmu sewatu di Halte kusam itu, apakah masih berlaku? "
Reza : " Masih Din!!, jadi apa keputusan kamu?"
Dina : " Keputusanku, aku ingin kita merajut sweater baru denganmu hahahaha "
Reza : " Aku akan selalu berusaha, agar aku gak mengecewakan kamu lagi Dina!! "
Dina : " Ku harap kau bisa mewujudkannya :) "


                                                                         ***

  Hubungan kami berjalan sampai sekarang, Dan hari ini Anniversari ke 2tahun. Sebagai peringatan, Kami pun pergi ke Halte yang dulu mempertemukan kami lagi. Singkat cerita, sesampai disana kami tidak melihat Halte kusam itu. Yang kami lihat hanya Halte berwarna merah, dengan aroma cat yang sangat menusuk. Halte itu berubah, menjadi Halte yang sangat bagus nyaman, bersih. Yang dulunya kusam, dan tidak ada orang yang mau singgah ke Halte tersebut. Tapi sekarang Halte itu punya mengunjung tetap, yang setiap harinya datang ke Halte tersebut untuk menunggu transportasi umum. 

  Juga seperti Hatiku, Dulu sebelum kedatangan Reza tempat itu seperti rumah hantu, yang banyak sarang laba-laba dan debu disetiap sudutnya. Tapi tempat itu kosong, tidak ada yang menempati. Tapi tidak sekarang. Sekarang Reza menempati lagi tempat itu. Akan ku kunci ruangan itu agar dia tidak dapat pergi lagi dariku.


Minggu, 28 Oktober 2012

Ini Aku

Ini aku
Tak mudah jatuh cinta juga sulit untuk melupakan

Ini aku
Tidak pendendam namun sulit memaafkan

Ini watakku
Bersikap keras
Selalu membosankan
Selalu membuatmu marah
Hingga kau jenuh dengan ku

Ini kelebihanku
Merawat luka-mu yang tidak ada yang mampu selalin aku

Ini kelebihanku
Melipat gandakan kamu dipikiranku

Ini kekuranganku
Tak pernah sadar kalau kau telah pergi dari hidupku

Ini kekuranganku
Rak pernah sadar kalau kau memang bukan untukku

Namun ini semua belum mencukupi untuk bisa memiliki.

Rabu, 24 Oktober 2012

Permen Kapas

  Dulu sewaktu aku berumur 5tahun, aku sering dibawa ke taman apa gitu namanya yang pasti aku lupa. Taman itu penuh denga permainan. Dan ibu sering beliin aku permen kapas. Bentuknya abstrak banget, warna pink, seperti kapas, tapi bisa dimakan!!! Aku gatau sampe berapa lama tu manusia bisa betahan hidup setelah makan kapas yang diwarnai pink itu.

  Pernah ditawarin sewaktu SD sama Ibu. Tapi aku tetep nolak. Dan yang terlintas dipikiranku itu gak lain "Gilak, Ni orang tua pengen bunuh anaknya apa nyuruh makan kapas". Ibu nyoba meraktekkan gimana cara makan permen kapas itu denan benar.

"Liat nih" kata Ibu yang mau menunjukkan aksinya, sambil mangap kayak ikan koi.
 Aku cuman bisa mangap ngeliat Ibu makan permen kapas itu secara brutal.
"Gapapa kan? Hahahahah " Katanya dengan bangga dan tak lupa dengan mulut yang belepotan dengan permen kapas.

Aku masi mangap.
Aku cuman bisa berdoa supaya Ibu gak muntaber setelah makan tu kapas.

  Besoknya aku nanya ke temen-temen SD. Aku juga ga yakin bakal dapet jawaban yang pas atas misteri permen kapas yang bisa dimakan ini.
"Heh cila"
   "Iya?"
"Pernah nyoba permen kapas gak?"
   "Pernah dong, rasanya enak manis. Tapi!!"
"Tapi apa?" Aku makin penasaran
   "Tapi sewaktu kita udah makan itu permen kapas...." Cila nyoba jelasin.
 "Pipis kita berubah jadi warna kuning banget trus agak ke pink-an luk..." Katanya dengan tampang yakin.
Aku cuman bisa mangap.

  PERISTIWA ANEH APA LAGI INI??? kenapa pipis kita bisa warna kuning dan agak ke pink-an. Semoga cila bisa lulus UN karna dia bego, dia bego mau makan permen kapas yang jelas-jelas bikin pipis dia jadi warna kuning ke pink-an. Hiiiiiiiii

  Sampai SMP aku di paksa untuk makan tu permen kapas sama saudara. Dijejelin (baca: dibulli). Dia bilang "Luk, kamu harus nyoba dulu. dalamnya gak seburuk luarnya."
Aku nyoba untuk makan...
pertama masuk kemulut.
Ehhh, ini enakkk....
Salah salah...
INI ENAK BANGETTT!!!

  Rasanya manis, sewaktu dimakan langsung lumer di lidah rasanya. Dan aku sadar kalo selama ini aku bodoh gamau nyoba ni kapasss.
  Ternyata tampang yang buruk bukan jaminan buruk juga dalamnya. Ini juga bisa dikaitkan dengan soal cinta. Harusnya kalian tidak melihat ganteng ataupun cantiknya seseorang dari fisiknya, melainkan dari Hatinya.