“ Dia yang membuatmu terluka, mungkin juga hanya dia yang dapat menyembuhakan luka itu.”
Pagi selalu membuat senyum baru, tapi tidak untuk kali ini. Dina yang sudah dua tahun hidup tanpa Reza membuatnya tidurnya selalu tidak nyenyak.
Dina bangun, yang pertama kali di lihatnya yaitu layar ponselnya. Dia membuka socialmedia yang biasa disebut dengan Twitter. Dia memulai paginya dengan ngestalking timeline Reza. Senyum kecil terlintas diraut muka Dina ketika mengetahui Reza baik-baik saja. Dina bukan senang karna bisa pisah dengan Reza, melainkan dia senang karna Reza baik-baik aja tanpanya. Menu sarapan Dina pagi ini adalah harapan mendapatkan mention dari Reza pagi ini untuk mengucapkan selamat pagi.
Coklat panas menemani pagi Dina yang hening. Kata demi kata disetiap tweet Reza selau mengingatkan Dina akan cara dia bicara, cara dia memberi kabar lewat sms maupun BBM. Dina membenci Reza. Reza yang merelakan hubungan mereka yang dikarnakan oleh jarak, Reza mengalah pada jarak. Padahal jarak Bandung-Jakarta hanya 2jam yang dapat ditempuh oleh mobil. Ia tak pernah mengerti bagaimana cinta bisa dikalahkan oleh jarak.
Dina memutarkan sebuah lagu dari ponselnya. Lagu itu merupan lagu favorit mereka berdua, Dina dan Reza.
“It’s so hard,it’s so hard
Where we are,where we are
You’re so far,this long distance is killing me
It’s so hard,it’s so hard
Where we are,where we are
You’re so far,this long distance is killing me”
Lagu itu selalu mengingatkannya dengan Reza, namun tak ada satu hari pun dilewati Dina tanpa mendengar lagu itu. Begitu juga dengan Reza, Dina setiap harinya selalu ngestalking timeline Reza untuk mendapatkan kabar Reza. Walau ia tau kalau kepo itu gak baik, dan bisa mengundang mendung dimata, tapi Dina selalu yakin bahwa aka ada seseorang yang dapat membuat pelagi dimatanya.
Lagu itu terhenti, dikarnakan Balqis sahabat Dina menelfon.
“Din….” Kata Balqis diujung dengan nada cemas.
“Iya Qis…. Aku gapapa kok. Cuma mau liburan disini sama ngilangin penat. Besok juga udah balik ke Jakarta.” Dina mencoba untuk menjelaskan.
“Alhamdulillah syukur deh, lo udah siapin cerpen untuk majalan edisi bulan ini kan? Besok kasi datanya ke gue ya din. Hati-hati ya. Asalamualaikum”
“walaikumsalam”
Dina sadar bahwa sahabatnya Balqis sangat cerewet, tapi hanya Balqis tempat Dina untuk meluapkan semua masalahnya. Dikarnakan dia seorang yang merantau. Dina selain menjadi mahasiswi, Ia juga bekerja disebuah majalah di Jakarta sebagai penulis artikel atau cerpen-cerpen. Sedangkan Balqis sahabatnya yang juga teman sekampus, ia bekerja dibidang jurnalis. Dina sering menceritakan kejadian di hidupnya di majalah tersebut, tapi nama pemerannya diganti.
Ting… Ting…
Alarm jam Dina berbunyi menandakan dia harus segera balik ke Jakarta. Jam yang selalu mengingatkan dan menemani Dina ini sebuah pemberian dari Reza sebagai hadiah di hari jadi mereka yang ke-2 tahun. Jam pemberian Reza ini yang mengingatkan dia kapan dia harus makan siang, malam, kapan dia harus tidur dan bangun pagi untuk memulai harinya. Harinya yang tak lagi didampingi oleh Reza. Tapi ketika masih ada Reza jam ini kurang berguna bagi Dina, dan Alarm-nya jarang di On-kan oleh Dina. Sebab Reza yang selalu mengingatkan Dina untuk makan, ataupun bangun pagi. Terkadang selalu ada pantun pagi yang dibuat oleh Reza untuk Dina. Selalu ada kejutan setiap harinya yang dibuat oleh Reza. Itulah yang membuat Dina susah untukmelupakannya. Dina telah melangkah jauh dari Reza, tapi Dina masih saja melangkah sambil menghadap belakang.
Sesampai di Jakarta tepatnya di tempat Dina bekerja, Nampak Balqis didepan pintu ingin menyambut sahabatnya yang Datang. “Beruntung sekali aku memiliki sahabat sepertimu, Qis” Hati Dina berbicara.
“Hei senyum dong”
Balqis menepuk pundak Dina dengan harapan Dina bisa semangat hari ini.
Dina hanya membalas senyum sambil melangkah masuk kedalam caffe dekat kantor mereka.
“Gitu dong”
Kata Balqis yang berjalan disamping Dina.
“Tumben banget lo datang cepat Qis?” Kata Dina yang niatnya mengejek.
“Hahahaha, kan mau nyambut lo yang dari Anyer itu.. hahahaha”
Balqis mengejek balik.
Lalu Dina hanya bisa melihat Balqis dengan tatapan “ujung-sepatu-gue-runcing-ni-nyet”.
Balqis ketawa lagi melihat Dina yang memasang tampang kesel.
Dina dan Balqis selalu menghabiskan paginya sebelum masuk kantor di Caffé dekat tempat mereka berkerja. Karna mereka hanya bekerja sambilan jadi mereka masuk jam 12 siang, sehingga itu sebabnya mereka bisa berlama-lama di Caffe tersebut.
Caffe itu selalu tampak nyaman bagi mereka. Caffe yang memiliki hanya 10 meja yang disetiap mejanya berisi 4 kursi. Membuat Dina dan Balqis selalu menjadi orang yang beruntung jika bisa mendapatkan tempat duduk. Caffe ini menjual kopi, the, roti bakar coklat keju, pancake, dan makanan kecil lainnya. Terkadang Reza selalu berkunjung ke caffe ini untuk menunggu Dina pulang kerja.
Dina memesan milk shake coklat dan pancake keju kesukaannya. Sedangkan Balqis memesan kopi dan roti bakar coklat.
“lo ga bosen apa mesen itu mulu” Kata Dina.
“Kan gue orangnya setia, jadi kalo mesen ya ini ini aja. Hehehehheeh” Kata balqis sembarangan dengan senyum mesum.
“Hahahahahaaha bisa banget lo”
Dina yang tertawa mendengar jawaban dari Balqis.
Balqis selalu bisa membuat Dina tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak, sama dengan Reza. Reza juga selalu punya tebakan yang akan ditanyakannya ke Dina setiap mereka jumpa. Reza juga memiliki kata-kata yang lucu yang akan disampaikan ke Dina.
“Wah pesanannya datang, aaakkkkk” kata Balqis sambil mangap.
“ayo kita habiskan!!!”
Lalu mereka tertawa bersama.”Indahnya persahabatanku ini” kata Dina dalam hati. Ia berpikir, kalau saja hubungan Reza dengan nya berjalan baik seperti hubungan persahabatan Dina dengan Balqis.
Dina meminum milk shake coklat-nya, sambil berpikir. Harusnya hubunganku seperti milk shake coklat ini biarpun es batu bersifat keras ketika di mix dengan susu coklat mereka akan melebur menjadi satu dan akan lembut juga. Tidak adalagi es batu ataupun susu coklat, sekarang yang ada Kita.
Aroma kopi, coklat panas ataupun teh semua tercium jelas juga dengan aroma tubuh Reza. Menenangkan namun menghanyutkan.
“Mau sampai kapan lo gini terus Din” Kata Balqis sambil menyeruput kopinya.
“ Gue juga gatau sampai kanapa gue terperangkap di hati Reza, masalahnya kunci pintu hatinya itu hilang Qis..” Kata Dina yang garuk-garuk kepala.
“Hahahaha alasan lo kayak rendang tiga minggu Din, Basi.”
Balqis tertawa keras, sehingga perhatian pengunjung coffe itu melihat mereka berdua.
“Heh, lo kalo ketawa santai dong. Malu nih diliatin” Kata Dina yang panik karena dilihat pengunjung caffe tersebut.
“Iya dah, tapi ekspresimu tadi bener-bener buat gue yakin kalo lo emang belum bisa move on hahahahaha” Balqis tertawa lagi.
“Mintak pisau roti lo tuh!” Dina menunjuk kearak pisau roti yang dipegang Balqis.
“Lah lo mau ngapain? Mau nyongkel pintu hatinya si Reza biar lo bisa keluar? Hahaha”
“Bukan, gue mau motong mulut lo tuh. Huh” Kata Dina yang kesal karna dibulli habis-habisan sama Balqis.
“Kenapa gak pake pisau daging aja?” Balqis nyinyir.
“BIAR LEBIH LAMA. BIAR PUAS GUE, KAMPRET LO”
Balqis hanya bisa tertawa dan mengelap air matanya karna lucu melihat tingkah Dina.
***
Caffe ini memang tempat yang pas untuk segalah hal. Mulai dari berbincang dengan teman, mengerjakan tugas, ataupun menghabiskan malam minggu bersama pacar yang seperti dilakukan Dina dan Reza dulu.
Suasana caffe yang nyaman membuat Dina dan Balqislupa akan waktu. Tanpa terasa sudah jam 11.45, dan seharusnya mereka sudah harus berada di kantor.
“Mampus Din, udah jam setengan 12. Gawat” Balqis yang panik langsung melahap sisa roti bakarnya.
“Gue tending juga nyampe lo ke kantor, santai aja.” Kata Dina sambil meminum sisa milk shake coklatnya.
Lalu mereka berjalan kearah kasir. Dan Dina mendapatkan pemandangan yang tidak asing, dia seperti pernah melihat orang ini sebelumnya. “Sepertinya semalam, iya bener dia yang di food court” Kata Dina sambil melihat pria tersebut yang duduk di pojok caffe.
“Lo kenapa lagi din?tanya Balqis.
“Itu Qis, cowok itu, aku ngeliat dia semalam di Anyer. Dan dia juga Nampak menyendiri.” Dina ngomong sambil memonyongkan bibir dengan niat menunjuk tapi tidak dengan tangan melaikan dengan bibir.
“Ohhh….” Balqis mangut-mangut udah kayak mainan dimobil. “Manis juga” Balqis melanjutkan perkataannya.
“Iya dia manis, sedangkan Reza tampan” kata Dina yang sambil membayangkan muka Reza.
“Udah ah, kita telat nih”
“Iya iya”
Sesampai di kator Dina selalu terbayang dengan dua wajah berbeda. Wajah Reza dan wajah pria yang ditemuinya di Anyer dan di caffe yang ia tidak tau namanya. Dina penasaran dengan pria tadi. Dia hanya bisa berharap dapat dipertemukan lagi dengan pria tersebut dan dapat berkenalan dengannya. Entah kenapa keinginan hati Dina kali ini sangat tinggi, membuat dia merasakan detakan jantung yang sama seperti Dina jumpa dengan Reza untuk pertama kalinya.