Kamis, 15 November 2012

2. Detakan Yang Sama



  “ Dia yang membuatmu terluka, mungkin juga hanya dia yang dapat menyembuhakan luka itu.”

  Pagi selalu membuat senyum baru, tapi tidak untuk kali ini. Dina yang sudah dua tahun hidup tanpa Reza membuatnya tidurnya selalu tidak nyenyak.
   Dina bangun, yang pertama kali di lihatnya yaitu layar ponselnya. Dia membuka socialmedia yang biasa disebut dengan Twitter. Dia memulai paginya dengan ngestalking timeline Reza. Senyum kecil terlintas diraut muka Dina ketika mengetahui Reza baik-baik saja.  Dina bukan senang karna bisa pisah dengan Reza, melainkan dia senang karna Reza baik-baik aja tanpanya. Menu sarapan Dina pagi ini adalah harapan mendapatkan mention dari Reza pagi ini untuk mengucapkan selamat pagi.
   Coklat panas menemani pagi Dina yang hening. Kata demi kata disetiap tweet Reza selau mengingatkan Dina akan cara dia bicara, cara dia memberi kabar lewat sms maupun BBM. Dina membenci Reza. Reza yang merelakan hubungan mereka yang dikarnakan oleh jarak, Reza mengalah pada jarak. Padahal jarak Bandung-Jakarta hanya 2jam yang dapat ditempuh oleh mobil. Ia tak pernah mengerti bagaimana cinta bisa dikalahkan oleh jarak.
   Dina memutarkan sebuah lagu dari ponselnya. Lagu itu merupan lagu favorit mereka berdua, Dina dan Reza.

“It’s so hard,it’s so hard
Where we are,where we are
You’re so far,this long distance is killing me
It’s so hard,it’s so hard
Where we are,where we are
You’re so far,this long distance is killing me”

   Lagu itu selalu mengingatkannya dengan Reza, namun tak ada satu hari pun dilewati Dina tanpa mendengar lagu itu. Begitu juga dengan Reza, Dina setiap harinya selalu ngestalking timeline Reza untuk mendapatkan kabar Reza. Walau ia tau kalau kepo itu gak baik, dan bisa mengundang mendung dimata, tapi Dina selalu yakin bahwa aka ada seseorang yang dapat membuat pelagi dimatanya.
   Lagu itu terhenti, dikarnakan Balqis sahabat Dina menelfon.
  “Din….” Kata Balqis diujung dengan nada cemas.
“Iya Qis…. Aku gapapa kok. Cuma mau liburan disini sama ngilangin penat. Besok juga udah balik ke Jakarta.” Dina mencoba untuk menjelaskan.
  “Alhamdulillah syukur deh,  lo udah siapin cerpen untuk majalan edisi bulan ini kan? Besok kasi datanya ke gue ya din. Hati-hati ya. Asalamualaikum”
“walaikumsalam”
Dina sadar bahwa sahabatnya Balqis sangat cerewet, tapi hanya Balqis tempat Dina untuk meluapkan semua masalahnya. Dikarnakan dia seorang yang merantau. Dina selain menjadi mahasiswi, Ia juga bekerja disebuah majalah di Jakarta sebagai penulis artikel atau cerpen-cerpen. Sedangkan Balqis sahabatnya yang juga teman sekampus, ia bekerja dibidang jurnalis. Dina sering menceritakan kejadian di hidupnya di majalah tersebut, tapi nama pemerannya diganti.

Ting… Ting…

     Alarm jam Dina berbunyi menandakan dia harus segera balik ke Jakarta. Jam yang selalu mengingatkan dan menemani Dina ini sebuah pemberian dari Reza sebagai hadiah di hari jadi mereka yang ke-2 tahun. Jam pemberian Reza ini yang mengingatkan dia kapan dia harus makan siang, malam, kapan dia harus tidur dan bangun pagi untuk memulai harinya. Harinya yang tak lagi didampingi oleh Reza. Tapi ketika masih ada Reza jam ini kurang berguna bagi Dina, dan Alarm-nya jarang di On-kan oleh Dina. Sebab Reza yang selalu mengingatkan Dina untuk makan, ataupun bangun pagi. Terkadang selalu ada pantun pagi yang dibuat oleh Reza untuk Dina. Selalu ada kejutan setiap harinya yang dibuat oleh Reza. Itulah yang membuat Dina susah untukmelupakannya. Dina telah melangkah jauh dari Reza, tapi Dina masih saja melangkah sambil menghadap belakang.
   Sesampai di Jakarta tepatnya di tempat Dina bekerja, Nampak Balqis didepan pintu ingin menyambut sahabatnya yang Datang. “Beruntung sekali aku memiliki sahabat sepertimu, Qis” Hati Dina berbicara.

“Hei senyum dong”
Balqis menepuk pundak Dina dengan harapan Dina bisa semangat hari ini.
Dina hanya membalas senyum sambil melangkah masuk kedalam caffe dekat kantor mereka.
“Gitu dong”
Kata Balqis yang berjalan disamping Dina.
“Tumben banget lo datang cepat Qis?” Kata Dina yang niatnya mengejek.
“Hahahaha, kan mau nyambut lo yang dari Anyer itu.. hahahaha”
Balqis mengejek balik.
Lalu Dina hanya bisa melihat Balqis dengan tatapan “ujung-sepatu-gue-runcing-ni-nyet”.
Balqis ketawa lagi melihat Dina yang memasang tampang kesel.
   Dina dan Balqis selalu menghabiskan paginya sebelum masuk kantor di Caffé dekat tempat mereka berkerja. Karna mereka hanya bekerja sambilan jadi mereka masuk jam 12 siang, sehingga itu sebabnya mereka bisa berlama-lama di Caffe tersebut.
   Caffe itu selalu tampak nyaman bagi mereka. Caffe yang memiliki hanya 10 meja yang disetiap mejanya berisi 4 kursi. Membuat  Dina dan Balqis selalu menjadi orang yang beruntung jika bisa mendapatkan tempat duduk. Caffe ini menjual kopi, the, roti bakar coklat keju, pancake, dan makanan kecil lainnya. Terkadang Reza selalu berkunjung ke caffe ini untuk menunggu Dina pulang kerja.
   Dina memesan milk shake coklat dan pancake keju kesukaannya. Sedangkan Balqis memesan kopi dan roti bakar coklat.

“lo ga bosen apa mesen itu mulu” Kata Dina.
“Kan gue orangnya setia, jadi kalo mesen ya ini ini aja. Hehehehheeh” Kata balqis sembarangan dengan senyum mesum.
“Hahahahahaaha bisa banget lo”
Dina yang tertawa mendengar jawaban dari Balqis.
Balqis selalu bisa membuat Dina tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak, sama dengan Reza. Reza juga selalu punya tebakan yang akan ditanyakannya ke Dina setiap mereka jumpa. Reza juga memiliki kata-kata yang lucu yang akan disampaikan ke Dina.

“Wah pesanannya datang, aaakkkkk” kata Balqis sambil mangap.
“ayo kita habiskan!!!”
Lalu mereka tertawa bersama.”Indahnya persahabatanku ini” kata Dina dalam hati. Ia berpikir, kalau saja hubungan Reza dengan nya berjalan baik seperti hubungan persahabatan Dina dengan Balqis.
   Dina meminum milk shake coklat-nya, sambil berpikir. Harusnya hubunganku seperti milk shake coklat ini biarpun es batu bersifat keras ketika di mix dengan susu coklat mereka akan melebur menjadi satu dan akan lembut juga. Tidak adalagi es batu ataupun susu coklat, sekarang yang ada Kita.
   Aroma kopi, coklat panas ataupun teh semua tercium jelas juga dengan aroma tubuh Reza. Menenangkan namun menghanyutkan.
“Mau sampai kapan lo gini terus Din” Kata Balqis sambil menyeruput kopinya.
“ Gue juga gatau sampai kanapa gue terperangkap di hati Reza, masalahnya kunci pintu hatinya itu hilang Qis..” Kata Dina yang garuk-garuk kepala.
“Hahahaha alasan lo kayak rendang tiga minggu Din, Basi.”
Balqis tertawa keras, sehingga perhatian pengunjung coffe itu melihat mereka berdua.
“Heh, lo kalo ketawa santai dong. Malu nih diliatin” Kata Dina yang panik karena dilihat pengunjung caffe tersebut.
“Iya dah, tapi ekspresimu tadi bener-bener buat gue yakin kalo lo emang belum bisa move on hahahahaha” Balqis tertawa lagi.
“Mintak pisau roti lo tuh!” Dina menunjuk kearak pisau roti yang dipegang Balqis.
“Lah lo mau ngapain? Mau nyongkel pintu hatinya si Reza biar lo bisa keluar? Hahaha”
“Bukan, gue mau motong mulut lo tuh. Huh” Kata Dina yang kesal karna dibulli habis-habisan sama Balqis.
“Kenapa gak pake pisau daging aja?” Balqis nyinyir.
“BIAR LEBIH LAMA. BIAR PUAS GUE, KAMPRET LO”
Balqis hanya bisa tertawa dan mengelap air matanya karna lucu melihat tingkah Dina.

                                                       ***
   Caffe ini memang tempat yang pas untuk segalah hal. Mulai dari berbincang dengan teman, mengerjakan tugas, ataupun menghabiskan malam minggu bersama pacar yang seperti dilakukan Dina dan Reza dulu.
   Suasana caffe yang nyaman membuat Dina dan Balqislupa akan waktu. Tanpa terasa sudah jam 11.45, dan seharusnya mereka sudah harus berada di kantor.
“Mampus Din, udah jam setengan 12. Gawat” Balqis yang panik langsung melahap sisa roti bakarnya.
“Gue tending juga nyampe lo ke kantor, santai aja.” Kata Dina sambil meminum sisa milk shake coklatnya.
   Lalu mereka berjalan kearah kasir. Dan Dina mendapatkan pemandangan yang tidak asing, dia seperti pernah melihat orang ini sebelumnya. “Sepertinya semalam, iya bener dia yang di food court” Kata Dina sambil melihat pria tersebut yang duduk di pojok caffe.
“Lo kenapa lagi din?tanya Balqis.
“Itu Qis, cowok itu, aku ngeliat dia semalam di Anyer. Dan dia juga Nampak menyendiri.” Dina ngomong sambil memonyongkan bibir dengan niat menunjuk tapi tidak dengan tangan melaikan dengan bibir.
“Ohhh….” Balqis mangut-mangut udah kayak mainan dimobil. “Manis juga” Balqis melanjutkan perkataannya.
“Iya dia manis, sedangkan Reza tampan” kata Dina yang sambil membayangkan muka Reza.
“Udah ah, kita telat nih”
“Iya iya”

Sesampai di kator Dina selalu terbayang dengan dua wajah berbeda. Wajah Reza dan wajah pria yang ditemuinya di Anyer dan di caffe yang ia tidak tau namanya. Dina penasaran dengan pria tadi. Dia hanya bisa berharap dapat dipertemukan lagi dengan pria tersebut dan dapat berkenalan dengannya. Entah kenapa keinginan hati Dina kali ini sangat tinggi, membuat dia merasakan detakan jantung yang sama seperti Dina jumpa dengan Reza untuk pertama kalinya.


Sabtu, 10 November 2012

1. Tempat Yang Sama Luka Yang Sama



   Anyer masih sama dengan dulu saat terakhir kali dina dan reza kesana. Desuran ombak, pasir putih kecoklatan, angin yang terus berbisik menjadi tempat yang sangat nyaman bagi mereka berdua. Aroma air laut selalu menjadi aroma favorit mereka.  Seketika penat semua hilang seperti ombak yang menyapu pasir dipinggiran pantai.
   Walaupun anyer sedikit jauh dari Jakarta tapi Dina dan Reza selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ketempat itu, tempat pertama kali mereka bertemu untuk pertama kalinya lalu berkenalan hingga menjalin sebuah hubungan dengan cerita yang bermacam-macam.
   Sepulang kuliah Dina langsung tancap gas menuju anyer, bertujuan untuk nenangin diri dan sedikit liburan. Dina lulus di Universitas Indonesia, sedangkan Reza sudah menjadi mahasiswa di ITB bandung. Jarak yang memisahkan mereka. Dina masih kurang mengerti apa maksud reza untuk mengakhiri hubungan mereka itu setelah menjalin hubungan selama lima tahun. Sepanjang perjalan Dina mencoba memencari jawaban dari dirinya.
   Sesampai di penginapan di Anyer, yang terletak pas depan pantai. Dina pun memesan sebuah kamar untuknya. Kamar itu Nampak sangat nyaman, dengan pintu kaca yang langsung menunjukkan wajah cantik dari pantai. Dina sangan suka pemandangan ini. Lalu Dina mengambil laptop dari tasnya, menekan tombol power pada sudut kanan pada laptop. Menurutnya menunggu loading dari laptopitu sangat mejenuhkan, tetapi jika menunggu Reza dating ketika mereka suda membuat janji itu sangat menyenangkan. Enatah kenapa pikiran itu semakin liar hingga membuat air matanya jatuh di sela-sela keyboard laptop Dina.
  Tanpa dia sadari laptopnya telah lama menunggu Dina yang sedang bermain di masa lalu. Dina bergegas menhapus air matanya. Dia membuka google lalu me-search “jarak”, mengartikan kata itu dari setiap artikel yang diabacanya. Matanya memerhatikan dari satu kata ke kata lainnya. Dia mengucapkan kata jarak hingga puluhan kali sampai tak ada lagi artinya baginya. Hanya sebuah kata yang terdiri dari 5huruf dapat membuat hubungannya dengan Reza tidak berjalan lancer lalu diakhiri dengan memutuskan untuk berpisah jalan.
   Dan sekali lagi air atanya pun jatuh membasahi pipinya yang kemerahan. Dina berubah pikiran, Dina keluar dari kamar lalu pergi ke pantai. Dina mencoba menghirup udaha pantai, mencoba merasakan betapa nyamannya berada disini, seperti berada dipelukan Reza.  Dina selalu mencoba untuk melupakan Reza, tapi itu belum bisa terwujud. Saat ingin melupakan, bayangan Reza selalu berkunjung ke pikiran Dina.
   “Mungkin ini jalan dari Tuhan” Kata Dina yang sedang menggenggap pasir. “ Seharusnya ini Anniversari kita yang ke lima tahun za, kalau saja kamu gak ngucapin itu. Pisah.” Hanya angin dan desuran ombang yang menemani Dina dalam kesunyian itu. Bertamu ke masa lalu, membuka jaitan luka yang lama lalu menaburkan garam diatas luka itu. Tak henti-hentinya airmata jatuh ke pipinya. Dan tidak ada lagi yang menghapus air mata itu dari pipinya.
   Mati rasa. Mungkin itu yang dirasakan Dina sekarang, sampai-sampai dia tidak merasakan dinginnya malam. Dia sibuk dengan pikiran masa lalunya itu. Tidak terasa sudah larut malam, Dina pun masuk ke hotel. Selangkah masuk keruangan tunggu, Dina melihat seorang pria yang duduk di foodcourt sambil sibuk dengan ponsenya. Menatap laya yang tidak begitu lebar sambil melemparkan senyuman. “Mungkin dia lagi chat atau sms an dengan seseorang” pikir Dina. Dina memutuskan untuk ke food court juga karna cacing di perutnya udah berutal.
   Dina memesan nasi goring seafood dan lime jus, dia juga ingat kalau nasi goring seafood merupakan makanan favorit dari reza. Dina menikmati sesuap demi sesuap dari nasi goreng tersebut.  Bayangan Reza sedikit demi sedikit pun hilang untuk sementara ini seiring dengan habisnya seporsi nasi goring yang di pesan Dina tadi.
   Dina melihat jam tangan-nya, sudah hamper jam 9. Tidak baik mungkin berlama-lama ditempat yang tersimpan aroma tubuh reza, suara ketika dia tertawa. Dina lalu mengangkat tubuhnya lalu bergegas menuju kamarnyasetelah membayar pesanannya tadi dikasir.
   Biasanya, Dina bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama reza untuk berbincang di foodcourt tersebut. Bicara dengan reza tidak pernah membuatnya jenuh atau tidak meliki cerita lagi. Selalu ada cerita yang mereka bahas ketika bersama. Tawa, senyuman yang mengiringi setiap perbincangan mereka selalu membuat semua berwarna.
   Namun, Reza yang selalu mmbuat Dina tersenyum ataupun tertawa. Dia juga yang membuat Dina jatuh hingga harus belajar jalan dari awal lagi. Agar bisa berjalan di kenyataan tanpa harus jatuh dan luka lagi.

Jumat, 09 November 2012

Percakapan Di Halte

  Hujan terlalu deras untuk terus berjalan kaki, mau atau tidak aku harus menunggu dia reda di Halte. Halte yang lama tidak disinggahi oleh pengguna transportasi umum. Coretan, poster-poster menghiasi dinding Halte tersebut. Hujan tak kunjung reda, dan matahari berganti tugas dengan bulan.

  Hujan tinggal rintik-rintik. Mengangkat kaki lalu pergi dari Halte itu langsung terlintas dipikiran. Ketika ingin pergi, seseorang datang ke Halte tersebut lalu memanggilku.

"dinaa.... " kata lelaki itu.

  Kepala yang ditutupi oleh sebuah topi, dan jaket hitam yang memeluknya hangat. Suara itu tak asing bagiku, tapi aku tidak bisa nebak siapa dia dikarnakan bayangan topi yang menutupi wajahnya. Lalu dia membuka topinya dan berkata..

"ini aku.." sambil tersenyum dia menatapku.

  Ternyata dia Reza, mantan ku dulu. Mataku gak bisa berpaling dari matanya. Lalu dia mengajakku mengobrol. Tidak bisa ku tolak permintaan itu, lalu aku menghampiri lagi Halte kusam itu. Kami pun duduk berdua sambil berbincang disana.

" Apa kabar kamu, dina? Kamu masih mengingatku? ''

" Ngg.. alhamdulillah baik, kamu gimana? Bagaimana bisa lupa aku denganmu hahahaha" *sambil tertawa kecil* 

*Hening* 

" Kamu kemana saja selama ini? setelah tamat SMA kamu terus hilang" tanya dia seperti orang cemas.

" Oh soal itu, iya aku lanjutkan study di Jogya za, aku lulus di snmptn, dan saat ini aku lagi liburan. Karna itu aku ke jakarta" aku joba menjelaskan kepada Reza.

" Kenapa kamu tidak memberi tau aku, Din? "

" Kupikir kau lagi sibuk dengan dia, pacar baru mu. dan aku gak mau menunggu didepan pintu yang belum pasti terbuka dan menerima kedatanganku. Kedatanganku akan membawa masalah untuk hubunganmu. "

" Aku salah memilih dia ketimbang kamu, maaf aku telah menyia-nyiakan kamu. Orang yang selama ini selalu di dekatku walau senang ataupun... "

" Jangan berkata seperti itu, perkataan mu itu membuat lukaku yang dulu terbuka lagi. Aku telah mengikhlaskanmu dengannya, za. Harusnya kamu jangan menyesal dengan apa yang telah kamu lakukan, dan kamu harusnya menyesal apa yang belum kamu lakukan sampai saat ini"

" Kamu selalu bisa menepis ya, kamu masih sama seprti yang dulu. Din, siapa pacarmu sekarang?" 

" Ha? Pacar? hahahaha tidak ada terbeset dipikiranku untuk pacaran lagi Za. Pasti ada saatnya, toh jodoh juga gak bakal kemana kan? "

" Hahaha iya Dina... " sambil tertawa Reza menatapku

" Apakah kamu sudah memaafkanku? Atas semua kesalahkanku, dan perlakuanku padamu setelah berjumpa dengan wanita itu? "

" Kalau soal itu kamu tak usah khawatir, aku orangnya tak pendendam. Kalau aku pendendam aku bakan menerormu setiap hari atas perlakuanmu. Huhh" 

" Jadi kamu maafin aku, Din? "

" Maafku banyak untuk mu, tinggal kamu ambil saja."

" Apa kau mau merajut sweater baru denganku? pasti kau tau maksudku apa din. "

" Aku gak bisa memutuskan sekarang, Za. "

" Yasudah, sudah larut malam. Aku antar kamu ya. "

" Jangan repot, aku bisa sendiri kok. "

                                                                              ***

 Dimalam itu kami bertukaran nomor hape. Setelah hari itu dia terus menanyakanku tentang ajakannya untuk menjalin hubungan denganku lagi. Tapi aku belum saja memutuskan sampai sekarang, ada rasa takut yang menghantui setelah kejadian 2tahun lalu. 

*3bulan berlalu*
 Hubungan kami semakin dekat, dan ada terlintas pikiran untuk menerima dia dihidupku lagi. Mulai menulis cerita baru, yang setiap lebarnya kami nikmati ceritanya. tampa menerka-nerka apa akhir cerita cinta ini.

*SMS*

Dina : " Reza"
Reza : " Ya Din? ada yang mau kau bilang? "
Dina : " Ini tentang ajakanmu sewatu di Halte kusam itu, apakah masih berlaku? "
Reza : " Masih Din!!, jadi apa keputusan kamu?"
Dina : " Keputusanku, aku ingin kita merajut sweater baru denganmu hahahaha "
Reza : " Aku akan selalu berusaha, agar aku gak mengecewakan kamu lagi Dina!! "
Dina : " Ku harap kau bisa mewujudkannya :) "


                                                                         ***

  Hubungan kami berjalan sampai sekarang, Dan hari ini Anniversari ke 2tahun. Sebagai peringatan, Kami pun pergi ke Halte yang dulu mempertemukan kami lagi. Singkat cerita, sesampai disana kami tidak melihat Halte kusam itu. Yang kami lihat hanya Halte berwarna merah, dengan aroma cat yang sangat menusuk. Halte itu berubah, menjadi Halte yang sangat bagus nyaman, bersih. Yang dulunya kusam, dan tidak ada orang yang mau singgah ke Halte tersebut. Tapi sekarang Halte itu punya mengunjung tetap, yang setiap harinya datang ke Halte tersebut untuk menunggu transportasi umum. 

  Juga seperti Hatiku, Dulu sebelum kedatangan Reza tempat itu seperti rumah hantu, yang banyak sarang laba-laba dan debu disetiap sudutnya. Tapi tempat itu kosong, tidak ada yang menempati. Tapi tidak sekarang. Sekarang Reza menempati lagi tempat itu. Akan ku kunci ruangan itu agar dia tidak dapat pergi lagi dariku.